Para ahli sejak lama telah mengetahui komunikasi non verbal seperti intonasi suara dan ekspresi wajah merupakan penyampai pesan emosi yang baik. Suara yang hangat, ketus dan bahasa non verbal lain, bahkan memiliki makna yang sama secara universal.

Namun selama beberapa tahun terakhir ini para ahli mulai fokus pada bentuk komunikasi yang lain, yakni sentuhan fisik. Sentuhan sekilas, seperti tepukan di pundak atau saling menepuk tangan seperti tos, lebih efektif untuk mengomunikasikan berbagai bentuk emosi lebih dari ekspresi atau bahasa tubuh. Bahkan, sentuhan fisik sekilas ini bisa lebih akurat sebagai penyampai pesan daripada kata-kata.

“Ini adalah bahasa pertama yang kita pelajari. Bahkan bentuk komunikasi ini lebih efektif untuk mengekspresikan emosi,” kata Dacher Keltner, ahli psikologi dari University of California, Berkeley, Amerika Serikat.

Berbagai penelitian menunjukkan, sentuhan fisik lebih efektif untuk mengubah pola pikir dan perilaku seseorang. Studi menyebutkan, murid yang mendapat sentuhan suportif di pundak dari gurunya, lebih bersemangat untuk aktif di kelas dibanding rekannya.

Sementara itu sentuhan simpatik dari dokter pada pasiennya disebutkan membuat pasien lebih lama berkunjung dan berkonsultasi pada dokternya. Penelitian yang dilakukan oleh pakar dari Touch Research Institute di Miami menunjukkan, sentuhan kecil dari orang yang dicintai membuat pasien yang depresi lebih bersemangat.

Dalam beberapa seri penelitian yang dilakukan oleh Matthew Hertenstein, psikolog dari University of Indiana, para responden diminta menyampaikan delapan jenis emosi, mulai dari rasa penghargaan hingga benci. Akan tetapi komunikasi hanya boleh dilakukan dengan cara menyentuh orang yang tidak dikenalnya. Ternyata, 70 persen responden mampu menyampaikan emosi secara akurat.

Dalam dunia olahraga, penelitian menunjukkan, tim yang bermain bagus cenderung lebih banyak melakukan sentuhan fisik kepada rekan satu timnya dibanding tim yang bermain buruk. “Sentuhan fisik akan menguatkan ikatan antar anggota tim,” kata Michael W.Kraus, dalam laporannya yang dimuat di jurnal Emotion.

Para ahli mengatakan, sentuhan hangat punya makna positif dalam berbagai bidang. Bagi para atlet, hal itu akan meningkatkan performa di lapangan, sementara di kantor akan mengurangi stres. Sentuhan hangat membuat otak mengeluarkan hormon oksitoksin yang memberi sensasi rasa percaya dan mengurangi hormon stres.