Kegiatan yang terkonsep dan terjadwal sama sekali belum berjalan di Kota Tua. Keinginan menggaet investor masih sebatas keinginan. Kawasan yang mestinya bisa jadi panggung bagi siapapun untuk memulai dan menebar virus kreatif, Taman Fatahillah dan Kalibesar, kini hanya diisi gerombolan motor, sekumpulan anak muda, serombongan pasangan yang mencari tempat aduhai, dan sederet pedagang kaki lima.

Kota Tua tak hanya Taman Fatahillah dan  Kalibesar, tentunya. Di Jakarta Utara, seberang Pasar Ikan, ada seorang Susilawati yang nekat menyulap gedung bekas galangan kapal berusia lebih dari 300 tahun menjadi kafe. Itu kisah 11 tahun lewat. Sudah sejak sekitar empat tahun lalu, Susilawati kesulitan menjalankan bisnisnya itu.

Pelopor bisnis di kawasan Pasar Ikan ini pun sudah kehabisan asa. Pasalnya akses ke kawasan Kafe Galangan, demikian nama kafe itu, tak kunjung dibikin nyaman, aman, khususnya di malam hari. Ditambah belum ada kegiatan reguler yang dipusatkan di kawasan Pelabuhan Sunda Kelapa dan Pasar Ikan sehingga bisa menarik pengunjung ke kafe.

Sementara itu, tak jauh dari Museum Sejarah Jakarta, ada Kafe Batavia yang bisa dibilang lebih beruntung. Bisnisnya ada di lingkaran pusat Taman Fatahillah, meski demikian tak lantas pengunjung mampir ke kafe itu. Harga makanan dan minuman di situ bukanlah harga untuk kocek pelajar atau pengangguran yang selalu mampir ke kawasan tersebut.

Ini belum ditambah upaya menghidupkan Kota Tua melalui Wisata Malam yang baru dimulai. Konsep Wisata Malam ini belum jelas, meski rencana ini sudah dibikin setahun lalu. Tentu waktu jua yang akan membuktikan, apakah Wisata Malam mampu bertahan jika tak diselaraskan dengan sebuah konsep kegiatan yang lebih terarah.

Yang paling baru adalah Kafe Gazebo di Jalan Kunir. Kafe ini berisi beberapa macam makanan dan minuman khas. Es Krim Ragusa yang legendaris juga membuka stan di sini. Marshall Pribadi, anak muda yang masih kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini juga nekat membangun bisnis di kawasan yang sudah ditinggalkan penduduknya itu. Ia bahkan sudah menggaet pekerja kreatif untuk mengisi konter suvenir ala Jakarta. Suvenir itu dikerjakan oleh Agus, yang sudah beberapa tahun belakangan ini memusatkan bisnis di urusan suvenir tentang Jakarta dengan merek Jakarta 1527.  Semula ia menjual hasil karyanya via internet. Kini sebuah konter siap melayani publik.

Baik Marshall maupun Agus tak mau putus asa sebelum mencoba. “Kita harus tetap coba. Pelan-pelan, musti sabar, tapi saya yakin potensinya besar,” tandas Marshall. Sementara Agus pun ikut bersemangat dengan konter barunya. Kita nantikan hasil karyanya dalam bentuk kaos, mug, gantungan kunci.

Semoga, keberadaan anak-anak muda tadi, mencambuk anak muda lain untuk mau ikut berkreasi, menjadikan kawasan tersebut sebagai inspirasi mereka, menjadikan kawasan tersebut sebagai kanvas mereka, panggung mereka. Sehingga tercipta persaingan sehat antarpekerja kreatif, setidaknya pembuat suvenir khas Kota Tua. Agar ada sesuatu yang bisa kita jadikan oleh-oleh, oleh-oleh yang tak asal tentu saja.