Indonesia dan Jepang adalah dua negara yang sama-sama sering diguncang gempa Bumi. Berdasar kesamaan “nasib” itu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Kementerian Riset dan Teknologi (RISTEK) bekerjasama dengan Japan International Coorporation Agency (JICA) dan Japan Science and Technology (JST) menggagas program untuk mengurangi bahaya gempa.

Program Multi-Disiplin dalam Pengurangan Bahaya Gempa Bumi dan Gunung Api di Indonesia ini merupakan sebuah upaya mereduksi bahaya akibat gempa bumi maupun vulkanologi. Kerjasama riset antara Jepang dan Indonesia ini direncanakan berjalan selama 3 tahun dari tahun 2009 hingga 2012, meliputi enam bidang disiplin ilmu, yakni gempa bumi, gunung api, teknik geologi, sosial, pendidikan serta kebijakan pemerintah.

Menurut Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Kebumian, Hery Harjono di Kantor LIPI, Jl. Raden Saleh 43, Jakarta Pusat, Senin (22/3/2010), fokus utama riset ini adalah mencari solusi masalah penanggulangan bencana khususnya gempa tektonik, vulkanologi dan tsunami. Nantinya, pemecahan persoalan berasal dari evaluasi riset yang telah dijalankan.

“Hasil riset dari setiap bidang ilmu yang telah disebutkan tadi akan bermuara pada satu hal, yakni kebijakan pemerintah agar masyarakat sadar bahwa bencana merupakan bagian kehidupan,” tegas Hery.

Hasil riset ini akan digunakan juga untuk meningkatkan kapasitas penelitian gempa, tsunami dan gunung api sehingga upaya penanggulangan bencana terus bersinergi dengan bidang ilmu lainnya untuk mengurangi resiko bencana itu sendiri.

Program riset sendiri terbagi dalam enam kelompok berdasarkan disiplin ilmu masing-masing, yaitu prakiraan gempa dan tsunami, prakiraan letusan gunung berapi, pengembangan rekayasa prasarana berdasarkan informasi kebencanaan, peningkatan kesiapsiagaan masyarakat dalam rangka mitigasi kerentanan sosial, pendidikan dan penyuluhan serta koordinasi dengan pemerintah.