Memberi makna peradaban sebagai budaya, yang bermuatan cipta karsa,rasa dan karya agaknya kurang cukup. Alasannya, pemaknaannya terbatas pada muatan isi, bukan pada fungsi. Jika berbicara bagaimana peradaban ahsan (yang terbaik) akan berbeda sekali, karena ada hubungannya dengan fungsional agama yang mengharuskan peradaban yang baik itu dijalankan atau ditegakkan secara baik pula. Bukan sebaliknya, menegakkan peradaban dengan cara terlarang, hadits Nabi yang mengatakan addabani fi ahsani ta’dibii (bangunlah peradaban dengan cara beradab).

Tetapi kerap yang terjadi tidak demikian. Pada kebanyakan manusia bertindak berdasarkan kemauan sendiri tanpa memperhatikan nilai Agama. Karena itu, fungsi Agama sebagai nilai diperlukan dalam membangun peradaban yang baik tersebut.

Hakikat Peradaban
Hakikat peradaban bisa kita mulai dengan definisi “peradaban” itu sendiri. Peradaban mengambil padanaan kata civilization yang berarti nilai hidup satu kelompok atau bangsa dalam merespon tantangan masa yang dihadapinya dalam era tertentu (Oxport Dictionary English by Hassan Sadhly :2003).

Pada pengertian di atas sekurang-kurangnya ada 3 (tiga) inti, yaitu: pertama nilai, kedua kelompok tertentu, dan ketiga tantangan zaman.  Pengertian demikian memungkinkan respons suatu kelompok orang akan berbeda dengan kelompok lainnya. Juga bisa tantangan zaman berbeda maka nilai yang dipakai berbeda pula. Dengan demikian, penegakan satu peradaban tergantung pada kelompok dengan nilai yang dianutnya, serta tantangan zamannya. Repons dengan cara berbeda itu bahkan yang tidak beradab sekalipun dimungkin bisa terjadi.

Amat menarik apa yang disampaikan Wafa Sultan. Ia berpendapat bahwa sebenarnya peradaban itu muncul dari construct antara banyak dimensi: dimensi masa lalu dengan dimensi masa kini; dimensi kebodohan dengan ilmu; dimensi jahiliah dengan dimensi modern.
Dalam pandangan psikolog asal Syria yang kini mukim di Amerika tersebut juga terdapat pertentangan paham kemerdekaan dan penjajahan, pertentangan demokrasi dan diktator antara konsep sipil dan konsep militer. Wanita Arab berpredikat Doktor ini percaya bahwa dimensi itu berada tidak dalam clash (tabrakan) tetapi terletak dalam compite (persaingan) (TV Qatar, 12 Oktober 2005)

Agaknya dengan dimensi peradaban itu, antara dimensi masa lalu dan masa kini kerap mendatangkan kebimbangan pada kita. Padahal masa lalu itu sesuatu yang sudah selesai, masa kini dan masa depan menyediakan kreativitas yang baru. Ibarat buku masa kini dan masa akan datang itu, merupakan sambungan halaman demi halaman yang berbeda, namun merupakan kesatuan yang utuh

Perubahan Terbaik
Sama halnya dimensi kebodohan dan ilmu, tidak ada clash antara keduanya, karena yang terjadi adalah pencerahan, rasionalisasi keadaan yang bila disimpulkan tidak lain dari perubahan yang ahsan (baik). Begitu pula dimensi diktator dengan demokrasi, bukanlah tabrakan. Secara proses peradaban berlangsung melalui perubahan struktur yang awalnya kekuasaan perorangan (individual) menjadi kekuasaan bersama; konsep kekuasaan dengan dimensi superman (diktator) menjadi kekuasaan bersama atau super team dalam wadah demokrasi.

Terhadap dimensi sipil dan militer dinilai dari sudut peradaban tidak masalah bila itu sesuai dengan kepentingan suatu kaum dalam keperluan zamannya. Bahkan antara keduanya saling memberi, yaitu orang sipil berprilaku militer, dan sebaliknya kalangan militer bisa berprilaku sipil juga. Untuk sekadar menyebut kasus, perhatikanlah bangsa Indonesia dalam masa pra kemerdekaan: semua menjadi satu dalam dimensi militer untuk melawan penjajahan.

Kelompok sipil yang dimotori kaum Ulama, ikut berperang dalam wadah Barisan Hizbullah, Barisan Sabilillah yang semuanya menjalankan konsep militer bergabung dengan satuan militer yang ada. Secara ringkasnya, proses peradaban dengan beragam dimensi di atas, berlangsung dalam kriteria ahsan (baik) yaitu compite (persaingan) bukan clash (tabrakan)
Jika perubahan keadaan berlangsung tidak beradab, maka itulah yang menjadi masalah. Inilah yang dibayangkan oleh banyak orang adanya clash of civilization. Masalah ini juga disinggung oleh para ulama dalam dalil yang mengatakan “penegakan yang baik mestilah dengan cara yang baik juga”. Tidak dibolehkan menyelesaikan sebuah masalah dengan menimbulkan masalah yang baru.

Dalam falsafah negara kita salah satu silanya adalah “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.” Maksudnya pandangan hidup bangsa Indonesia mestilah menegakkan nilai-nilai kemanusiaan berupa nilai agama, kebebasan serta kemerdekaan dengan cara adil dan melalui cara yang benar sesuai dengan kepantasan sopan santun.

Nilai agama merupakan sesuatu yang tak terpisahkan dari upaya mencari manusia yang beradab tersebut. Bentuknya adalah dalam fungsinya sebagai manusia dalam peradaban. Tegasnya, seorang manusia menjalankan agamanya dalam peradaban. Atau menghadirkan ajaran Tuhan dalam dimensi sejarah, dimensi ilmu, dimensi demokrasi, dan dimensi militer, sehingga kita melihat wajah Tuhan itu ada dalam sejarah, ada dalam ilmu dan teknologi, ada dalam demokrasi, dan ada dalam konsep militer. Fungsi ajaran Allah Swt itu ada dalam peradaban manusia.

Penutup
Akhirnya, dalam membangun peradaban harus dibangun dalam perspektif agama. Jika Tuhan memberikan alam semesta dan isinya sebagai lahan dakwah, maka peradaban adalah medan dakwah itu sendiri, yaitu menghadirkan nilai hidup dan nilai keadilan yang beradab bagi semua manusia. Menghadirkan Sang Maha Pencipta langit dan bumi di atas persada bumi. Itulah peradaban yang dibangun dengan cara yang baik dan elegan (QS Al-Baqarah [2]: 225).
Semoga kita semua menyadarinya.